Review Anime March Comes in Like a Lion
Review Anime March Comes in Like a Lion. March Comes in Like a Lion, atau Sangatsu no Lion, tetap menjadi salah satu anime drama paling mendalam dan menyentuh hingga tahun 2026 ini, dengan kemampuannya mengeksplorasi tema kesepian, depresi, dan proses penyembuhan melalui kehidupan seorang pemain shogi profesional muda bernama Rei Kiriyama; tayang pertama kali pada 2016 dan melanjutkan season kedua hingga 2018, seri ini mengikuti Rei yang berusia 17 tahun, seorang pro shogi yang hidup sendirian setelah kehilangan keluarga dalam kecelakaan, dan bagaimana ia perlahan menemukan kembali kehangatan manusia melalui pertemuan dengan tiga saudara perempuan Kawamoto—Akari, Hinata, dan Momo—serta rival-rival di dunia shogi; di era sekarang di mana kesadaran kesehatan mental semakin tinggi, anime ini masih sering direkomendasikan karena pendekatannya yang realistis namun penuh harapan terhadap perjuangan emosional, menggabungkan momen pilu dengan kelembutan sehari-hari, humor ringan, dan keindahan visual yang membuatnya terasa seperti pengalaman terapi yang indah, sehingga terus menjadi referensi utama bagi penonton yang mencari cerita tentang menemukan makna hidup di tengah kegelapan. BERITA BASKET
Perjuangan Emosional Rei yang Realistis dan Menyentuh: Review Anime March Comes in Like a Lion
Perjalanan batin Rei Kiriyama menjadi inti cerita yang paling kuat dan relatable dalam March Comes in Like a Lion, karena digambarkan dengan kejujuran yang jarang ditemui di anime lain; Rei hidup dalam kesepian mendalam meski sukses sebagai pemain shogi profesional, sering merasa seperti beban bagi orang lain, dan bergulat dengan rasa bersalah atas kematian keluarganya serta hubungannya yang rumit dengan ayah angkatnya yang juga guru shogi; depresi dan isolasi sosialnya tidak disembunyikan atau diromantisasi, melainkan ditunjukkan melalui momen-momen hening, tatapan kosong, dan narasi internal yang gelap, tapi perlahan ia mulai terbuka melalui interaksi dengan keluarga Kawamoto yang hangat dan penuh kasih sayang; Akari yang seperti kakak perempuan, Hinata yang polos dan penuh semangat, serta Momo yang masih balita, memberikan Rei rasa keluarga yang selama ini hilang, sementara rival seperti Nikaidou dan Shimada menunjukkan bahwa persaingan bisa menjadi bentuk dukungan; perkembangan ini berlangsung sangat bertahap, tanpa solusi instan, sehingga penonton merasa ikut merasakan setiap langkah kecil menuju pemulihan, membuat seri ini terasa autentik dan memberi harapan nyata bagi mereka yang pernah mengalami kesulitan serupa.
Dunia Shogi yang Digambarkan dengan Cinta dan Detail: Review Anime March Comes in Like a Lion
Meski fokus utama pada drama emosional, March Comes in Like a Lion berhasil menjadikan shogi sebagai elemen cerita yang hidup dan menarik, bukan sekadar latar belakang; setiap pertandingan shogi digambarkan dengan ketegangan tinggi, strategi mendalam, dan visualisasi papan yang indah, di mana gerakan bidak disertai efek cahaya, bayangan, dan metafor seperti sungai atau medan perang yang mencerminkan kondisi mental pemain; Rei sering melihat shogi sebagai pelarian dari dunia nyata, tapi melalui turnamen dan latihan bersama seniornya, ia belajar bahwa permainan ini juga tentang menghadapi diri sendiri dan menghargai lawan; detail seperti persiapan mental sebelum match, tekanan waktu, atau rasa hormat setelah kalah, membuat penonton yang awam pun bisa memahami daya tarik shogi tanpa perlu penjelasan bertele-tele; elemen ini tidak hanya memperkaya cerita, tapi juga menunjukkan bagaimana passion bisa menjadi alat penyembuhan, di mana kemenangan bukan tujuan utama, melainkan proses bertumbuh bersama orang lain dalam dunia yang kompetitif namun penuh empati.
Visual, Musik, dan Atmosfer yang Menyembuhkan
Produksi March Comes in Like a Lion sering dipuji sebagai salah satu yang paling indah secara visual dan emosional, dengan animasi yang lembut, warna-warna musiman yang berubah sesuai suasana hati Rei—dari abu-abu dingin saat kesepian hingga hangatnya oranye saat bersama keluarga Kawamoto—serta penggunaan metafor visual seperti kucing liar yang melambangkan Rei sendiri; adegan-adegan hujan, salju, atau bunga sakura tidak hanya cantik, tapi juga memperkuat emosi tanpa kata-kata; musik latar karya Yukihiro Takahashi dan soundtrack piano yang melankolis namun penuh harapan, ditambah lagu tema yang menyayat hati, menciptakan atmosfer yang menyelimuti penonton dalam rasa pilu sekaligus damai; di 2026, ketika banyak anime baru mengandalkan efek cepat, seri ini tetap terasa timeless karena kepekaannya terhadap detail kecil dan kemampuannya menyembuhkan melalui keindahan sederhana, membuat setiap episode terasa seperti meditasi visual yang mendalam.
Kesimpulan
March Comes in Like a Lion di tahun 2026 masih menjadi salah satu anime drama terbaik yang pernah ada, dengan perpaduan sempurna antara perjuangan emosional yang realistis, dunia shogi yang penuh makna, serta visual dan musik yang menyembuhkan, sehingga berhasil menyampaikan pesan bahwa bahkan di tengah kegelapan terdalam, kehangatan dari orang-orang kecil dan passion bisa membawa cahaya; dari awal yang gelap hingga akhir yang penuh harapan tanpa terasa dipaksakan, seri ini memberikan pengalaman menonton yang lengkap, menyentuh, dan memberdayakan; bagi penonton baru, ini adalah kesempatan untuk menemukan cerita yang benar-benar bisa mengubah perspektif tentang kesepian dan pemulihan, sementara bagi penggemar lama, rewatch selalu membawa lapisan emosi baru dan rasa syukur yang lebih dalam; secara keseluruhan, anime ini bukan hanya tentang seorang pemain shogi yang kesepian, melainkan tentang bagaimana hidup bisa “datang seperti singa” dengan ganas tapi juga membawa musim semi yang hangat, sehingga layak tetap menjadi rekomendasi utama bagi siapa saja yang mencari karya seni yang mendalam dan penuh kasih sayang.
